Animal Assisted Therapy: Perbaiki Hubungan Bersama Hewan Kesayangan di Masa Pandemi dengan Pola Attachment Orientation for Human-Pets Animal

Animal Assisted Therapy: Perbaiki Hubungan Bersama Hewan Kesayangan diMasa Pandemi dengan Pola Attachment Orientation for Human-Pets Animal

Adib Al-Fikhri

Universitas Brawijaya

alfikhriadib@gmail.com


Kehadiran COVID-19 saat ini bagai pohon yang terus menjalarkan akarnya menembus semua sektor. Mulai dari sektor makro seperti ekonomi, sosial dan budaya, hingga sektor mikro seperti hubungan kekerabatan dan gangguan psikis seorang individu. Keadaan ini terus meresahkan semua pihak dan belum ditemukan solusi yang efektif untuk menanggulanginya. Pemerintah Indonesia telahmengeluarkan berbagai kebijakan, mulai dari physical distancing,Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga new normal. Namun sepertinya masih belum dapat menyurutkan pandemi ini secarasignifikan.

Masyarakat yang belum dapatmematuhi sepenuhnya kebijakan pemerintah justru menjadi boomerang yang membahayakan diri sendiri. Beberapa penyebab abainya masyarakat terhadap kebijakan pemerintah ialahkrisis ekonomi, tuntutan pekerjaan dan kebiasaan. Keadaan ini terus memaksa mereka agar tetap keluar rumah, berinteraksi dengan orang lain, hingga memposisikan diri berada di keramaian untuk mencari rezeki. Hal yang wajar sebenarnya dilakukan, karena pemerintah sendiri masih belum mampu memberikan subsidi yang cukup bagi masyarakat yang terdampak secara ekonomi.

Keadaan dimasa pandemi yang serba salah, serta krisis penghasilan keluarga karena pekerjaan yang dibatasi (terutama bagi kalangan masyarat ekonomi menengah kebawah) membuat masyarakat sangat membatasi kebutuhan hidupnya. Akibatnya, masyarakat mulai mengabaikan kebutuhan yang bukan prioritasnya. Hal ini dapat menjadi alasan untuk mengabaikan hewan kesayangan (pets animal) yang mungkin telah lama dirawat selama ini.

Hal tersebut dapat terjadi akibat majikannya tidak mampu lagi memberikan pakan yang cukup. Terutama ketika berita mengenai kucing dan anjing yang diduga terinfeksi COVID-19 menyebar, membuat tidak sedikit owner pets animal yang menjauhi hewan kesayangannya. Kabar tersebut berhasil menimbulkan berbagai macam persepsi terhadap pets animal. Mulai dari ketakutan, sedih dan trauma. Anggapan itu terus menghantui owner pets animal. Keadaan ini seakan menjadi argumen yang kuat bagi owner untuk mengabaikan, mengurung/mengisolasi, atau bahkan menelantarkan hewan kesayangannya dengan harapan mereka mampu hidup mandiri dalam masa pandemi ini. Tentu saja tindakan tersebut sangat bertentangan dengan prinsip animal welfare.

Selain merenggut hak hewan yang tertuang dalam prinsip animal welfare, seperti hewan harus bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari nyeri luka dan sakit, bebas dari rasa takut dan ketakutan, dan bebas mengekspresikan perilaku normalnya (Untari et al, 2018), hal tersebut juga dapat mengakibatkan hewan menjadi stress, sakit, bahkan mati karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri karena selama hidupnya hewan ia selalu diberikan pelayanan secara instan oleh ownernya.

Kondisi psikologis masyarakat yang terganggu turut memperkeruh keadaan. Dimana kondisi itu akan menimbulkan respon kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran yang dampaknya dapat berupa physicosomatis (Aktinson, 1999, dalam Nurkholis 2020). Menurut Kartono (2000), physicosomatis adalah bentuk macam-macam penyakit fisik yang ditimbulkan oleh konflik psikis dan kecemasan kronis. Kondisi itu tentu akan terus bertambah parah jika terus dibiarkan. Hal ini berarti kecemasan terhadap COVID-19 yang berlangsung kronis akan menjadi asupan yang nikmat bagi physicosomatis ini.

Diperkuat dengan pendapat Ahdiany et al (2017), kecemasan berlebih terhadap kematian akan menimbulkan gangguan fisiologis seperti depresi, neurotisma, hingga gangguan pshysicosomatis. Berdasarkan theory of somatic weakness keadaan ini akan lebih mengganas bagi individu yang memiliki organ yang lemah. Bayi dan lansia menjadi sasaran utama physicosomatis ini. Namun bukan berarti remaja dan dewasa kebal terhadap penyakit ini mengingat penyebab organ tubuh lemah bukan hanya karena umur melainkan begitu banyak faktor pendukung lain.

Selain kecemasan, faktor yang mendukung terjdinya physicosomatis ini juga dapat dikaranakan kejenuhan, bosan dan stress. Menurut Kellner (1994) dalam Nurkholis (2020) psikosomatis sangat erat kaitannya dengan hubungan jiwa dan badan. Kejenuhan yang berlebih serta rasa bosan yang tinggi sangat mungkin dialami oleh masyarakat Indonesia sebagai akibat dari karantina diri dirumah yang sudah terlalu lama. Terutama bagi mahasiswa yang dilanda tugas dan ujian yang bertumpuk.

Keadaan dimasa pandemi ini sungguh menimbulkan panik yang luar biasa, hingga membuat masyarakat tidak mampu berpikir jernih. Hal tersebut dapat dilihatdari munculnya fenomena panic buying, menelantarkan hewan kesayangannya, sampai menolak orang yang ingin pulang ke kampung halamannya. Namun sebenarnya jika dipikirkan lebih jauh solusi justru ada pada kebiasaan kita selama ini. Seperti seorang owner yang stress dan cemas berlebih sampai mengabaikan hewan kesayangannya karena takut tertular COVID-19Padahal justru kedekatan dengan hewan kesayangannya itulah yang dapat menjadi solusi.

The American Veterinary Medical terus menekankan bahwa tidak ada alasan untuk berpikir hewan peliharaan (termasuk pets animal) dapat menularkan COVID-19. Hal itu diperkuat oleh pendapat WHO yang mengatakan hingga kamis 2 April 2020 belum ada laporan kasus yang mengatakan hewan peliharaan mampu menularkan COVID-19ke manusia (Tribunnews.com, 2020). Justru menurut penelitian dari Chandra et al (2019) hewan kesayangan seperti anjing dan kucing mampu memberikan terapi bagi seseorang yang mengalami gangguan psikis dan mental illness. Beberapa penelitian lain juga mendukung pendapat ini, seperti penelitian McConell (2011) yang mengategorikan hewan kesayangan sebagai social support untuk kesehatan mental.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Juliadilla et al (2018) dengan dua karakteristik yaitu berdasarkan pendidikan dan status pernikahan, dapat dilihat tabel jumlah penurunan tingkat stressbagi responden yang memelihara hewan kesayangan.

Tabel 1. Persamaan regresi

Model Understandarized Coeficient T Sig
B Std.Error
Constant 4,29 0,141 30,417 0,000
Kepemilikan Hewan -1,231 0,185 -6,663 0,000

Sumber: (Juliadilla et al, 2018)

 

Dari tabel persamaan regresi diatas dapat diketahui kepemilikan hewan berpengaruh terhadap tingkat stress. Jika angka kepemilikan hewan meningkat akan diikuti dengan penurunan angka tingkatan stress pada individu tersebut. Nilai sig t (0,000) < α = 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat (tingkat stress) dapat dipengaruhi oleh variabel kepemilikan hewan secara signifikan.

Animal Asissted Therapy (AAT) merupakan wujud dari tindakan untuk menurunkan tingkat stress, kecemasan berlebih dan menurunkan resiko physicosomatis yang berbahaya. Metode ini telah berkembang untuk terapi anak-anak autis karena dianggap lebih memerlukan perlakuan khusus dibanding manusia normal. Namun mengingat kondisi pandemi yang kian memprihatinkan karena dapat menurunkan kesehatan mental dan psikis seorang individu secara signifikan, terapi ini dirasa perlu dilakukan bersama hewan kesayangan terutama saat dirumah. Menurut penelitian dari Chandra et al (2019) ruang tertutup menjadi sangat penting ketika dua user (owner dan pet) ketika merasakan dirinya seolah-olah berada didalam “kandang” akan mendapatkan sebuah pengalaman ruang yang terapeutik dan menyembuhkan.

Salah satu teori yang mendukung proses AAT adalah attachment theory (teori kelekatan) dengan pola orientation, atau lebih dikenal dengan sebutan attachment orientation. Attachment orientation merupakan orientasi keterikatan yang sistematik dari respon emosi, ekspektasi, dan perilaku yang diakibatkan oleh sebuah keterikatan. Menurut Brenan et al (1998) dalam Chandra et al (2019), attachment orientation bisa diukur oleh tingkat attachment anxiety dan  attachment avoidance. Attachment anxiety merupakan kondisi yang mengindikasikan tingkat dimana manusia khawatir jika tidak adapasangannyadidekatnya. Sedangkan Attachment anxiety merupakan kondisi yang mengindikasikan tingkat kepercayaan terhadap pasangan mereka. Kedua kondisi ini akan mencerminkan bagaimana seseorang akan mengatasi stressyang dialaminya (Zilcha et al, 2011).

Berdasarkan riset, hubungan manusia dengan hewan terbukti berkaitan serta menimbulkan respon attachment orientation yang juga dapat diukur dengan attachment anxiety dan attachment avoidance (Chandra et al, 2019). Karena pemilik hewan menganggap mereka sebagai sumber kebahagiaan, pembangkit mood, atau dengan kata lain menjadi tempat berlindung dari permasalahan (stress, cemas, takut, jenuh, bosan serta mampu mengurangi resiko physicosomatis). Begitu pula bagi hewan, owner merupakan pelindung dan pemberi makan, dan kenyamanan. Sehingga membuat mereka (owner dan pet) rela memberi kasih sayang, cinta, ketenangan dan dukungan saat mereka membutuhkannya.

Attachment orientation dapat dihadirkan melalui interaksi yang intens, artinya mempunyai waktu yang lebih untuk bermain bersama hewan kesayangan menjadi kunci utamanya. Jika dilakukan secara rutin attachment orientation akan mampu bergeser pada tahap yang lebih tinggi yaitu attachment securities. Dimana pada tahap ini, hubungan yang baik antara manusia (owner) dan hewan kesayangannya mampu berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental dan psikis, bahkan dapat menjadikan hubungan dengan manusia lain menjadi lebih positif.

Kehadiran COVID-19 yang selama ini menimbulkan permasalahan dikalangan masyarakat seperti sosial ekonomi yang mengakibatkan penelantaran pets animal, stress, kecemasan berlebih, panic buying, dan sebagainya yang mampu menurunkan kesehatan mental dan psikis hingga dapat meningkatkan resiko terkena physicosomatis, dapat teratasi dengan melakukan pendekatan diri dengan hewan kesayangan, melalui Animal Asisted  Therapy (AAT) dengan pola pendekatan attachment orientation yang dilakukan secara intens. Penerapan metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan Kesehatan Masyarakat Veteriner (KESMAVET) terutama dari segi mental dan psikis.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ahdiany, Gina Nu., Efri W, Nita F. 2017. Tingkat Kecemasan Terhadap Kematian Pada ODHA. Jurnal Keperawatan Sudirman Vol 12 No 3.
  2. Chandra, Jenifer., Sidhi Wiguna Teh. 2019. Ruang Perantara Manusia Dengan Hewan. Jurnal Stupa Vol 1 No 2 (1945-1956).
  3. Juliadilla, Risa., S Candra Hastuti H. 2018. Peran Pet (Hewan Peliharaan) pada Tingkat Stres Pegawai Purnatugas. Jurnal Psikologi Integratif Vol 6 No 2(153-175.
  4. Kartono, Kartini. 2000. Hygiene Mental. Bandung: Mandar Maju
  5. McConnell, Allen R. & Brown, Christina M. 2011. Friends With Benefits: On the Positive Consequences of Pet Ownership. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 101. No-6. 1239-1252
  6. Nurkholis. 2020. Dampak Pandemi Novel-Corona Virus Disiase (Covid-19) Terhadap Psikologi Dan Pendidikan Serta Kebijakan Pemerintah. Jurnal PGSD Volume 6 (1) Januari – Juni 2020
  7. Tribunnews.com. 2020. 2 Kucing Positif Covid-19, Apakah Hewan Bisa Tularkan Virus    Ke        Manusia?        Ini        Penjelasannya.                       Diakses                21     Juli                       2020. https://m.tribunnews.com/amp/internasional/2020/04/05/2-kucing-positif- covid-19-apakah-hewan-bisa-tularkan-virus-ke-manusia-ini-penjelasan- peneliti?page=3
  8. Untari, Heni D., Basuki Rochmad S, Zaza F, Suprihatin. 2018. Optimalisasi Prinsip Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare) Pada Hewan Coba di BBVET Wates Untuk Mendukung Diagnosis Laboratorium. Yogyakarta: Laboratorium BBVET Wates.
  9. Zilcha-Mano, S., Mikulincer,M. & Shaver, P. R.(2011). An attachment perspective on human– pet relationships: Conceptualization and assessment of pet attachment orientations. Journal of Research in Personality. Journal of Research in personality, 45(4) , 345-357 , DOI: 10.1016/j.jrp.2011.04.001.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *