Press Release: Rekomendasi Urgensi Penguatan Karakter Profesi Veteriner bagi Mahasiswa Kedokteran Hewan Seluruh Indonesia Diajukan Oleh Departemen Kajian Strategis Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia Periode 2018/2019

REKOMENDASI URGENSI

PENGUATAN KARAKTER PROFESI VETERINER

BAGI MAHASISWA KEDOKTERAN HEWAN SELURUH INDONESIA

DIAJUKAN OLEH

DEPARTEMEN KAJIAN STRATEGIS

IKATAN MAHASISWA KEDOKTERAN HEWAN INDONESIA

PERIODE 2018/2019

DIBIMBING OLEH

Dr. drh. RP Agus Lelana, SpMP, MSi.

DALAM RANGKA

MENYIKAPI TANTANGAN ERA DISRUPSI

BAGI KEHIDUPAN BERORGANISASI DAN BERPROFESI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

“Quo Vadis Veterinary Ethic”

Arus globalisasi dalam dunia modern yang serba maju dan makin otomatis ini banyak sekali bidang dan profesi yang berkembang. Setiap orang dihadapkan pada banyak pilihan dalam kehidupan profesional. Namun demikian, dari banyak pilihan yang terbuka tersebut, pilihan profesi sebagai dokter hewan masih dianggap oleh masyarakat sebagai pekerjaan yang sangat mulia. Anggapan dan penghargaan dari masyarakat atas mulianya profesi dokter hewan tersebut, menjadikan para dokter hewan dituntut untuk menjaga sikap dan perilakunya dalam menghadapi pasien, client, maupun masyarakat. Semakin maju suatu peradaban masyarakat, semakin besar pula tuntutannya pada ilmu kedokteran dan kode etik pada orang-orang yang berprofesi sebagai dokter (Taher 2003).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian canggih, ditambah dengan perubahan sosial kemasyarakatan yang begitu cepat, telah menancapkan pengaruh yang luar biasa besarnya bagi berbagai disiplin ilmu. Tidak terkecuali kedokteran hewan. Perkembangan disiplin ilmu ini, menjadi tantangan dalam medik veteriner yang juga begitu besar, membuat para pakar dibidang veterinary ethical untuk selalu memperbincangkan dan membuat kesepakatan-kesepakatan di seputar isu-isu etika kedokteran hewan sesuai dengan prosedurnya. Demikianlah, etik kedokteran hewan terus dikembangkan dan dipelihara untuk menjaga kesinambungan profesi dokter hewan sebagai profesi yang mulia.Veterinary ethical mengajarkan etika profesi, yaitu etika profesi kedokteran hewan. Oleh karena itu, titik fokus dan penekanan pendidikan kode etik di fakultas kedokteran hewan haruslah pada akhlak, moral, dan etika.

Setiap masyarakat tidak memiliki pemahaman dan pengamalan etika yang sama, namun selalu ada kesamaan yang berlaku umum yang melewati batas-batas suku, bangsa, dan agama. Menurut kamus Bahas Inggris, Cellins Large Print Dictionary, makna dari kata ethics memiliki beberapa arti, yang pertama adalah a code of behaviour especially a particular group, profession or individual yang artinya seperangkat aturan perilaku, khususnya bagi sebuah kelompok, profesi atau individu tertentu. Kedua, The study of the moral of human conduct yaitu mengenai moral perilaku manusia. Ketiga, In accordance with principles of professional conduct, artinya sesuai dengan prinsip-prinsip perilaku profesional. Veterinary ethical merupakan tata perilaku kelompok profesional dengan para pelaku di bidang medik veteriner (para dokter hewan), studi tentang nilai-nilai, moral, dan akhlak perilaku dokter hewan yang sesuai dengan prinsip dan pokok perilaku profesi seorang dokter hewan.

Veterinary ethical memiliki sifat yang universal dan selalu berpedoman pada hukum positif, baik dalam bentuk undang-undang maupun peraturan negara, ataupun bentuk ketetapan dan hukum pemerintah lainnya. Meskipun demikian tentunya sumpah dokter hewan, sumpah jabatan, dan kode etik kedokteran hewan merupakan referensi utama dalam perumusan veterinary ethical. Perubahan sosial di dunia yang begitu cepat, sudah barang tentu terdapat banyak hal yang menjadi tantangan maupun ancaman. Tak terkecuali juga dunia kedokteran hewan. Tantangan maupun ancaman tersebut berkaitan dengan peran fungsi veteriner secara spesifik.

Peran fungsi veteriner secara spesifik adalah:

(1) Fungsi security, perlindungan/kepastian kesehatan dan kesejahteraan hewan, kesehatan lingkungan terutama terutama kesehatan manusia dan kesehatan masyarakat;

(2) Fungsi safety, tidak menjamin risiko/menjamin kesehatan manusia dan kesehatan manusia dari bahan asal hewan serta penularan penyakit dari hewan; fungsi profesionalisme, memberi layanan medik (Caturroso 2014).

Optimalisasi peran fungsi veteriner digunakan berbagai ilmu medik yaitu upaya-upaya penyehatan yang merupakan ciri khas ilmu kedokteran, yaitu promotif (peningkatan kesehatan), preventif (pencegahan penyakit), kuratif (penyembuhan penyakit), dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan) dengan menggunakan peralatan veteriner, farmasi veteriner, dan berbagai fungsi laboratorium sebagai pendukung diagnosis (Caturroso 2014). Kesehatan masyarakat dijamin dengan masih didukungnya ilmu epidemiologi (penyebaran penyakit), analisis risiko penyakit, keamanan pangan dari produk asal hewan, fungsi pengawasan dalam pembuatan, pemakaian, dan peredaran obat hewan serta keamanan dan khasiat obat hewan (farmasi veteriner) dan sebagainya (Caturroso 2014).

Seorang dokter hewan yang ideal adalah dokter hewan yang mampu memberikan jasa medis veteriner secara profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat (client), mampu memberikan perlindungan kepada hewan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, mampu mengembangan kecakapan diri (skill and intelectual prefesionalism) untuk mendukung perannya sebagai dokter hewan, mampu menjaga respek dan hubungan yang baik dengan sesama dokter hewan, dan mampu menjaga kelestarian dan keharmonisan lingkungan.

Tantangan dan ancaman pada peran fungsi dokter hewan tersebut dapat berimbas pada eksistensi invidual maupun profesi apabila tidak menjalankan fungsi-fungsi tersebut sebagimana mestinya. Ketentuan tentang sumpah dan kode etik profesi dokter hewan tercantum dalam pasal 71 UU18/2009 tenteng Peternakan dan Kesehatan Hewan, yaitu dalam menjalankan urusan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dan ayat (2), tenaga kesehatan hewan wajib mematuhi kode etik dan memegang teguh sumpah atau janji profesinya. Proses pembelajaran dan pengahayatan kode etik bagi mahasiswa kedokteran hewan ditetapkan sesuai dengan kurikulum pendidikan kedokteran hewan Indonesia.

Proses pembelajaran etik veteriner bagi mahasiswa kedokteran hewan berfungsi untuk menjadikan individu-individu calon dokter hewan tersebut sebagai dokter hewan yang sesuai dengan konsep dokter hewan ideal. Selan itu, etik veteriner yang berlandaskan kepada pola pendidikan dasar yaitu knowledge,skill, and attitude sebagai dokter hewan. Hal tersebut mampu menjawab tantangan terhadap eksistensi dokter hewan yang berkualitas yang sejalan dengan arus globalisasi di dunia modern ini khususnya bagi calon-calon dokter hewan millenials.

Kerangka Pemikiran

Pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter Generasi Milenial Bagi Mahasiswa Kedokteran Hewan

Pendidikan karakter selalu layak untuk diperbincangkan terutama saat banyak masalah muncul khusunya dikalangan remaja maupun secara umum bagi bangsa Indonesia. Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukkan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang. Pentingnya pendidikan karakter ini juga diperkuat oleh Perpres No 87 tahun 2017 menargetkan penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Ada beberapa prinsip yang harus dipegang teguh dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Pertama, bahwa orang harus mempunyai prinsip dan keyakinan. Prinsip dan keyakinan ini bisa ditanamkan saat menjalani pendidikan. Kedua, orang harus berani melawan ketidakberesan walau hal itu telah menjadi sesuatu yang mapan dan taken for granted (telah dianggap benar). Ketiga, manusia harus mampu menghadirkan logos atau nilai-nilai objektif dalam kehidupan dan bukan berdasarkan mitos, karena objektivitas adalah nilai-nilai yang tidak mungkin tertolak dan terbantahkan kebenarannya, dan yang keempat, Sokrates menyadarkan kepada manusia untuk mengenali dirinya sendiri, menjadi pribadi yang otonom, memiliki tanggun jawab moral dan hidup bersama orang lain. “Life is to be something for another”.

Menurut John W. Santrock (1973), pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang memelihara dan mempromosikan perkembangan individu, intelektual, sosial, dan emosional. Ini adalah proses pembelajaran berkelanjutan yang memungkinkan orang-orang muda dan orang dewasa menjadi individu yang bermoral, peduli, kritis, dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter merupakan hubungan antara pengetahuan, nilai, dan keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam hidup. Pendidikan karekter dibagi menjadi dua bagian yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus. Pengetahuan umum yaitu pengetahuan yang mencakup berbagai subjek yang luas. Pengetahuan khusus diperoleh melalui bacaan luas dan pelatihan di bidang studi tertentu. Nilai di sisi lain adalah keyakinan dan ajaran moral seseorang atau masyarakat tentang apa yang baik dan buruk yang dapat memengaruhi sikap dan perilaku.

Karakter akan membekali manusia menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan baik melalui pengajaran, pelatihan, dan pengalaman langsung. Dalam konteks etika atau nilai-nilai moral pendidikan, ukuran keberhasilan adalah jika seseorang secara sadar dan sukarela mampu membuat komitmen pribadi terhadap nilai-nilai. Pendidikan karakter sangat membutuhkan suasana atau iklim yang tepat dan contoh konkret. Menanamkan nilai-nilai keadilan akan terhambat jika seorang tinggal di lingkungan yang tidak mendukung nilai-nilai ini. Sifat jujur dan adil tidak dapat ditanamkan di lingkungan yang tidak menghormati dan menegakkan keadilan, dan membiarkan ketidakadilan.

Lickona (1992) sangat menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character), yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral, dan moral action atau perbuatan moral. Tiga hal ini diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebijakan. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus karena melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).

Starlink (2004) menjelaskan beberapa karakter generasi milineal, pertama, computers are not technology. Teknologi komputer bagi generasi milineal adalah hal yang lumrah dan biasa-biasa saja sebagaimana kita hidup sebelumnya bersama telpon maupun televisi. Kedua, reality is no longer real. Kehadiran identitas diri tidak lagi benar-benar nyata. Dunia digital telah menggantikan identitas manusia dalam berkomunikasi tanpa harus bertemu satu sama lain. Ketiga, doing is more important that knowing. Generasi milenal lebih mengutamakan hasil dari pada penguasan teori atau pengetahuan. Pengetahuan bukan sebagai tujuan utama melainkan tindakan dan hasil. Keempat, learning more closely resembles Nintendo than logic. Proses pembelajaran generasi sekarang lebih mirip dengan permainan Nintendo yang menggunakan metode trial and error untuk memecahkan masalah.

Narasi-narasi besar yang ada dalam teori keilmuan akan banyak diabaikan dan digantikan oleh metode coba-coba. Generasi ini menyajikan sifat penasaran dan keingintahuan yang sangat tinggi. Kelima, multitasking is a way of life. Generasi ini sangat nyaman dan biasa jika diberi tugas-tugas yang beragam atau tugas-tugas di luar kebiasaan umum secara bersamaan. Keenam, there is zero tolerance for delays. Anak-anak mileneal sangat anti penundaan. Generasi Ini lahir dan dibesarkan dalam budaya tepat waktu dan berorientasi layanan, dan ketujuh, consumer and creator are blurring. Saat ini sudah sangat susah dibedakan antara pencipta dan pemakai. Dunia digital yang menyediakan data-data digital yang sangat banyak memudahkan orang-orang untuk mengakses data dan menggunakan sesuai dengan keinginannya.

Kesiapan terhadap perubahan yang cepat ini juga melanda pendidikan tinggi. Industri era 4.0 yang mengedepankan dunia digital ini menuntut pendidikan tinggi melakukan penguatan atau pembangunan di bidang karakter, mengajarkan mahasiswa untuk higher order thingking, multiple intelegence, soft skill, dan life-long learning, untuk menghadapi tantangan-tantangan baru. Perubahan yang cepat di era disrupsi ini akan mampu diatasi oleh siapa saja yang memiliki educational commptence, competence in research, competence for digital business, competencies in globalization, competencies in future strategies.

Namun, salah satu terpenting yang diajarkan pendidikan adalah bagaimana manusia memiliki karakter yang baik. Pendidikan karakter merupakan pendidikan fundamental yang harus diajarkan, karena akan membentuk individu ke arah kehidupan yang lebih baik. Selama ini pendidikan masih banyak yang menekankan aspek kognitif dan memandang sebelah mata pada persoalan afeksi, sehingga menurut Samani (2011), pendidikan karakter seolah-olah terpisah dari pekembangan pengetahuan yang menyebabkan kecurangan-kecurangan dalam dunia pendidikan, plagiasi, dan bahkan pembelian gelar. Sementara itu dalam konteks generasi mileneal yang hidup bersama dengan dunia digital sangat membutuhkan pendidikan ini karena globalisasi memberikan dampak yang luar biasa terutama pada aspek norma dan budaya. Semakin terintegrasinya dunia ini maka perubahan akan sangat cepat terjadi dan membutuhkan kemampuan yang cepat dan tepat untuk beradaptasi dengan kebudayaan lain.

Dampak globalisasi tersebut sepertinya juga dapat melanda calon-calon dokter hewan milenial di Indonesia. Perkembangan dunia modern dengan kemajuan teknologi yang semakin otomatis dapat memengaruhi perkembangan dan adanya perubahan perilaku mahasiswa kedoteran hewan. Tindakan, sikap, dan perilaku mahasiswa yang mulai meninggalkan nilai-nilai positif yang berlaku dalam interaksi yang ada di masyarakat merupakan tantangan bagi calon dokter hewan generasi milenial.

Pola komunikasi di era digital ini terkadang menjadikan mahasiswa lupa bagaimana caranya berkomunikasi yang benar dengan tidak meninggalkan nilai-niali sopan santun dalam mengirimkan pesan, terutama untuk orang yang lebih tua. Kecenderungan pola pikir yang menginginkan hal yang serba instant, membuat mereka melupakan betapa pentingnya sebuah “proses” dalam menajalankan kehidupan.

Interaksi dan komunikasi mahasiswa dalam lingkungan kampus dan masyarakat mengajarkan mahasiswa kedokteran hewan agar lebih cakap dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik tentunya merupakan kebutuhan bagi calon dokter hewan yang diaplikasikan dalam dunia profesi. Salah satu hal sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan di kampus maupun di masyarakat adalah dengan menerapkan 5S yaitu senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Penerapan 5S dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan karakter calon dokter hewan yang ramah, rendah hati, dan menghargai seseorang sebagai inividu.

Arus globalisasi juga dapat merubah pola pikir mahasiswa kedokteran hewan, dimana suatu pencapaian dalam profesi dapat dilakukan seorang diri tanpa bantuan dari orang lain. Pola pikir yang cenderung individualis tentunya tidak mencerminkan sikap dan tindakan yang sesuai dengan peran sebagai seorang calon dokter hewan. Salah satu hal yang dapat mendukung peran mahasiswa kedokteran hewan agar dapat menjadi calon dokter hewan yang kompeten adalah kemampuan dalam menjaga respek dan hubungan yang baik dengan sesama. Seorang mahasiswa kedokteran hewan selayaknya memiliki hubungan yang baik dengan sesamanya karena peran dan fungsi dokter hewan dalam profesi tidak dapat dijalankan seorang diri saja.

Mahasiswa kedokteran hewan sebagai salah satu representasi generasi dokter hewan milenial yang ada di Indonesia, dituntut untuk memiliki kualitas dan kinerja yang baik agar dapat bersaing nantinya. Tantangan yang semakin besar tersebut menimbulkan suatu pertanyaan kepada kalangan calon dokter hewan milenial, apakah mereka mampu menjadi agen perubahan bagi profesi, bangsa, dan dunia dalam era disruption ini?

Pertanyaan tersebut dapat dijawab apabila mahasiswa kedokteran hewan mampu menjalankankan dan mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa dan memantapkan diri dalam pendidikan karakter seorang dokter hewan. Mahasiswa kedokteran hewan sebagai keluaran dari pendidikan tinggi sangat berperan penting dalam menentukan arah kemajuan profesi, karena seorang dokter hewan yang maju ditandai dengan tingkat mutu SDM yang tinggi. Selain dituntut untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, pendidikan tinggi juga dituntut untuk menghasilkan lulusan yang berkarakter terpuji dan memiliki sikap mental yang kuat dan tangguh. Pendidikan karakter bagi mahasiswa kedokteran hewan akan melahirkan calon-calon dokter hewan milenial ideal yang akan menjalan fungsi dan peran dokter hewan dalam memberikan jasa medis veteriner secara profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat (client), mampu memberikan perlindungan kepada hewan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, mampu mengembangan kecakapan diri (skill and intelectual prefesionalism) untuk mendukung perannya sebagai dokter hewan, mampu menjaga respek dan hubungan yang baik dengan sesama dokter hewan, dan mampu menjaga kelestarian dan keharmonisan lingkungan.

Maksud dan Tujuan

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji metode penguatan karakter profesi veteriner bagi mahasiswa kedokteran hewan seluruh Indonesia dalam rangka meyikapi tantangan era disrupsi bagi kehidupan berorganisasi dan berprofesi, selain itu sebagai rekomendasi pengantar kajian veterinary leadership yang di dalamnya termuat pengetahuan tentang kode etik dan legislasi veteriner.

IMPLEMENTASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER GENERASI MILENIAL BAGI MAHASISWA KEDOKRTERAN KEDOKTERAN HEWAN

Implementasi pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan dengan pemberian dan evaluasi terhadap pengetahuan umum dan khusus beserta prakteknya agar dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang yang sesuai dengan Perpres No 87 tahun 2017 yang menargetkan penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Selain itu, penguatan pendidikan karakter generasi milenial bagi mahasiswa kedokteran hewan agar dapat menjawab dan mengahadapi tantangan adalah dengan menjalankankan dan mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa dan memantapkan diri dalam pendidikan karakter seorang dokter hewan agar kelak dapat melahirkan calon-calon dokter hewan milenial ideal yang akan menjalan fungsi dan peran dokter hewan dalam memberikan jasa medis veteriner secara profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat (client), mampu memberikan perlindungan kepada hewan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, mampu mengembangan kecakapan diri (skill and intelectual prefesionalism) untuk mendukung perannya sebagai dokter hewan, mampu menjaga respek dan hubungan yang baik dengan sesama dokter hewan, dan mampu menjaga kelestarian dan keharmonisan lingkungan.

Daftar Pustaka

Buchori, Mcchtar. 2006. Pendidikan Gagal Tanpa Partisipasi Orang Tua, Basis No 07-08.

       Tahun ke 55, Juli-Agustus, 2-13.

Caturroso PR. 2014. Peran dan Kewenangan Dokter Hewan Indonesia. Yogyakarta (ID).

       UGM Pr.

Lickona, Thomas, 1992, Educating for Character: How Our Schools can Teach Respect and

       Responsibility.  New York (US): Bantam Books.

Rawls, John, 1973, A Theory of Justice (edisi revisi). Cambridge: Belknap Press.

Samani, Muchlas dan Hariyanto. 2011. Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Bandung: PT. Remaja               

       Rosdakarya.

Starlink. 2004. Educating the NetGen: Strategies that work. Participant Packet.

        http://www.starlinktraining.org/packets2004/packet129.pdf

Tarmizi Taher, M.D. 2003. Medical Ethics. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *