Kajian Edisi World Milk Day 2018 – Isu Ketersediaan Susu Sapi Nasional

Apakah Pemerintah Mampu Mencukupi Kebutuhan Susu Dimasa Depan?

Gambar 1. Kondisi di Peternakan Sapi Greenfields di Kabupaten Malang Jawa Timur (Sumber: Tempo.co)

Susu merupakan salah satu produk peternakan utama dari sapi perah yang dalam jumlah banyak dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Kandungan gizi yang lengkap menjadi alasan tingginya permintaan susu baik secara kuantitas maupun kualitas. Saat ini, produksi susu dalam negeri hanya memenuhi sepertiga kebutuhan, sedangkan dua per tiganya diimpor dari luar negeri terutama Australia, Perancis, dan New Zealand. Impor sapi perah betina telah mampu meningkatkan produksi susu nasional, namun masih tetap tidak mampu memenuhi permintaan konsumen susu yang terus meningkat setiap tahun dimana peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya tingkat ekonomi dan kesadaran akan kebutuhan makanan bergizi (Agustina 2016). Melihat kondisi seperti ini maka timbul pertanyaan, apakah kebutuhan susu nasional di masa depan dapat terpenuhi?

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi susu nasional. Peluang untuk meningkatkan produksi susu nasional itu dapat dikategorikan dalam tiga kegiatan utama, yakni: (1) penambahan populasi sapi perah betina; (2) perbaikan pemberian pakan dan tatalaksana; serta (3) perbaikan intensifikasi pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB). Rendahnya kemampuan produksi susu nasional selama ini dikarenakan populasi sapi perah betina yang masih relatif sedikit dengan kemapuan produktivitas sapi perah yang juga masih rendah (Siregar 2001). Produksi susu nasional tidak akan pernah mampu untuk mengimbangi permintaan konsumen susu. Oleh karena itu, sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi susu nasional adalah dengan penambahan populasi sapi-sapi perah betina. Peningkatan populasi sapi-sapi perah betina dapat dilakukan dengan impor sapi perah betina dan meningkatkan efisiensi reproduksi (Agustina 2016).

Meningkatkan efisiensi reproduksi dapat diupayakan melalui optimalisasi selang beranak yang mengacu kepada terjadinya kelahiran setiap tahun. Selang beranak yang cukup panjang sebagaimana yang terjadi selama ini, berakibat terhadap efisiensi reproduksi yang rendah. Upaya yang dilakukan selama ini untuk mengoptimalkan selang beranak masih sangat kurang. Dewasa ini disinyalir bahwa selang beranak sapi-sapi perah yang dipelihara di Indonesia masih lebih dari 365 hari. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata sapi perah induk baru akan melahirkan lebih dari setahun dan keadaan ini akan menurunkan tingkat kelahiran (DISNAK JABAR 2002).

Tingkat kelahiran yang rendah berakibat terhadap peningkatan populasi yang rendah pula. Optimalisasi selang beranak sebagaimana yang diproyeksikan di daerah propinsi Jawa Barat, diharapkan akan dapat meningkatkan populasi sapi perah paling sedikit 5%/tahun (DISNAK JABAR 2002). Optimalisasi selang beranak dapat dilakukan melalui dua cara yakni: (1). Sapi-sapi perah induk sudah mulai dikawinkan sekitar 60 hari setelah melahirkan dan sekitar 85 hari setelah melahirkan, sapi perah induk itu sudah harus bunting kembali. (2) Servis per konsepsi (S/C) tidak lebih dari dua kali. Apabila S/C-nya lebih dari 2 kali, maka sapi perah induk yang bersangkutan harus menjalani uji sterilitas (DISNAK JABAR 2002). Kedua hal tersebut dapat terlaksana dengan pemberian pakan yang memenuhi kebutuhan produksi dan reproduksi.

Gambar 2. Kontrol Reproduktivitas Sapi Perah (Sumber : http://www.trobos.com/thumbnail/b_8061.jpeg)

Kebijakkan peningkatan populasi ternak sapi perah dalam berbagai upaya di atas telah menunjukkan hasil yang signifikan terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas sapi perah. Perkembangan sapi perah Indonesia baik dari segi kualitas maupun kuantitas cenderung meningkat. Sejak tahun 1980-2016 terjadi peningkatan pertumbuhan sebesar 5,26%, namun selama beberapa tahun terakhir populasi sapi perah turun degan rata-rata sebesar 1,14%. Peningkatan kembali terjadi pada tahun 2011 yaitu sebanyak 22,27% atau 108,76 ribu ekor lebih banyak daripada tahun sebelumnya, dan kembali turun pada tahun 2013 (Agustina, 2016). Peternakan sapi perah Indonesia saat ini masih didominasi oleh usaha peternakan yang berlokasi di Pulau Jawa. Hal itu ditunjukkan oleh besarnya populasi sapi perah di Pulau Jawa dengan angka 99% dari total populasi sapi perah Indonesia sebanyak 533,86 ribu ekor pada tahun 2016 sebagaimana data berikut ini:

Gambar 3. Perkembangan Sapi Perah di Jawa dan Luar Jawa, 1980-2016 (Sumber : Pusat data dan sistem informasi pertanian sekretariat jenderal-kementrian pertanian 2016)

Kebijakan untuk menanggulangi kesenjangan populasi sapi perah dan melakukan pemerataan populasi adalah dengan mengembangkan Sentra Peternakan Rakyat (SPR). SPR dibentuk untuk mengubah pola pikir, pengetahuan, dan kemampuan peternak agar dapat menjadi wirausaha-wirausaha handal dan mandiri dalam menjalankan bisnis (LPPM IPB 2015). SPR di Indonesia sudah tersebar dalam beberapa titik di Sumatera Selatan, Kalimantan Sekatan, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Selain itu, kebijakan pemerintah yang relevan dalam menundukung pegembangan usaha ternak di luar Pulau Jawa adalah integrasi sapi-tanam seperti yang telah dilakukan di Sulawesi Utara. Integrasi ternak sapi-tanaman dapat meningkatkan pendapatan petani maupun pemerintah, memperbaiki kesuburan tanah, menyediakan sekaligus meningkatkan produktivitas pakan, selain sebagai sumber pendapatan tambahan melalui penjualan pupuk kompos, dan penyewaan tenaga kerja ternak (Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 2005).

Gambar 4. Deklarasi Sentra Peternakan Rakyat (SPR) se- Kabupaten Lebak (Sumber : http://infopublik.id/assets/upload/headline//20161116024830.jpg)

Peluang untuk meningkatkan produksi susu nasional terbuka pula melalui peningkatan kemampuan berproduksi susu dari sapi-sapi perah induk dengan cara perbaikan pakan. Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Karo Provinsi Sumatra Utara menunjukkan peningkatan jumlah pakan yang telah disesuaikan nutriennya akan meningkatkan jumlah produksi susu atau sebaliknya jika jumlah dan kandungan nutrien pakan menurun maka akan menyebabkan penurunan produksi susu (Agustina, 2016). Penelitian yang telah dilakukan di daerah Garut, menunjukkan bahwa suplementasi pakan konsentrat yang lebih tinggi kandungan protein dan energinya sebanyak 3 kg/ekor/hari dapat meningkatkan kemampuan berproduksi susu sampai dengan 22,3% (Siregar et al. 1994). Sementara itu, penelitian yang telah dilakukan di daerah Pangalengan, Lembang, dan Kertasari menunjukkan bahwa suplementasi pakan konsentrat yang lebih tinggi kandungan protein dan energinya sebanyak 2 kg/ekor/hari berpengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan berproduksi susu sekitar 11,3−25,0% (Siregar 2000). Sedangkan penelitian yang dilakukan di daerah Sumedang (Jawa Barat) dengan suplementasi pakan konsentrat yang lebih tinggi kandungan protein dan energinya sebanyak 2,0–2,5 kg/ekor/hari dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari, dapat meningkatkan kemampuan berproduksi susu sekitar 18,1–19,1% (Siregar  2001).

Peningkatan kemampuan berproduksi susu dari sapi-sapi perah yang dipelihara para peternak melalui perbaikan pakan dan frekuensi pemberiannya harus dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan para peternak (Sugiarti dan Siregar 1999). Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena para peternak pada umumnya tidak akan termotivasi untuk meningkatkan kemampuan berproduksi susu sapi-sapi perahnya, tanpa adanya pertambahan pendapatan. Panjang laktasi sebagaimana telah dinyatakan, sangat menentukan pula terhadap pencapaian produksi susu yang maksimal dari sapi-sapi perah induk. Optimalisasi masa kosong, diteksi birahi yang tepat, dan akurat serta inseminasi yang tepat waktu, telah mampu mengoptimalkan panjang laktasi yang memberikan dampak terhadap penigkatan produksi susu rata-rata sekitar 4,96–9,42% (Sugiarti dan Siregar 1999).

Peluang-peluang yang masih terbuka untuk peningkatan produksi susu nasional, dihadapkan pula pada sejumlah tantangan. Seberapa jauh tantangan dapat ditanggulangi merupakan suatu indikator sejauh mana peluang itu dapat dimanfaatkan. Fungsi pasar tidak hanya sebatas penyerapan susu, tetapi juga sekaligus penentu harga. Walaupun pasar masih terbuka luas, namun apabila harga tidak memadai, maka tidak akan terjadi peningkatan produksi yang signifikan. Para peternak sapi perah tidak begitu termotivasi untuk mengembangkan, ataupun meningkatkan produksi susunya.

Hal ini dikarenakan harga susu yang diterima para peternak umumnya masih relatif rendah, sehingga tidak mendorong para peternak untuk mengembangkan usaha sapi perahnya ataupun peningkatan produksi susunya karena tidak berdampak pada peningkatan penghasilannya (DITJENNAK 1996b). Akibatnya peningkatan produksi susu nasional berjalan sangat lamban dan selalu tertinggal jauh dibelakang permintaan susu yang berjalan lebih cepat. Usaha pemeliharaan sapi perah, skala usaha didasarkan pada jumlah sapi perah induk yang yang dipelihara para peternak berkisar antara 3–5 ekor dan hal ini merupakan skala usaha yang tidak efisien maupun ekonomis (DITJENNAK 1996b).

Peningkatan produksi susu tidak terjadi secara signifikan walaupun berbagai kebijakan telah dilakukan pemerintah. Peningkatan jumlah produksi susu seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan jumlah sapi perah yang terjadi. Lantas hal apakah yang memengaruhinya? Bagaimana dengan permintaan susu yang semakin hari semakin meningkat sebagaimana data yang ditunjukkan pada tabel berikut:

Gambar 5. Perkembangan Produksi Susu Sapi di Jawa dan Luar Jawa. 1980-2016 (Sumber : Pusat data dan sistem informasi pertanian sekretariat jenderal-kementrian pertanian 2016)

Produksi susu sapi sejak tahun 1980-2016 sebesar 852.951 ton sedangkan permintaannya mencapai 972.619 ton yang artinya Indonesia masih kekurangan susu sebanyak 119.668 ton lagi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi susu sapi Indonesia hanya berkisar 3% sedangkan angka permintaan tumbuh sebanyak sebanyak 4% per tahun (Agustina 2016). Oleh sebab itu, pemenuhan permintaan susu dilakukan melalui aktivitas impor dari negara-negara produsen susu sebanyak 10,82 % pada tahun 2010.

Pengembangan usaha pemeliharaan sapi perah dalam arti peningkatan skala usaha dan pelaksanaan seleksi yang ketat dan berkelanjutan, memerlukan sumber bibit sapi perah yang berkemampuan tinggi dalam berproduksi serta memberikan nilai yang ekonomis. Selama ini para peternak umumnya membesarkan sendiri anak sapi perahnya untuk dijadikan pengganti atau penambah induk sapi-sapi perah yang dipeliharanya. Skala usaha kecil tidak akan mampu melakukan seleksi untuk meningkatkan kemampuan berproduksi susu sapi-sapi perah induknya. Keterbatasan modal menyebabkan para peternak tidak sanggup untuk mengeluarkan sapi-sapi perah induknya yang berproduksi susu rendah dan menggantikan dengan sapi-sapi perah induk yang berproduksi susu tinggi.

Kesenjangan antara pertumbuhan konsumsi dengan produksi menyebabkan jumlah impor susu Indonesia terus meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya kemandirian dan kedaulatan pangan (food soverignty) khususnya susu yang akan semakin jauh dari harapan. Hal tersebut berpotensi masuk dalam food trap negara eksportir dimana pemenuhan asupan nutrisi dari susu sangat bergantung dari kondisi pasar negara eksportir (Agustina 2016). Impor sapi perah yang telah dilakukan selama ini lebih bersifat penyebaran dan pemerataan pemeliharaan sapi perah dan tidak untuk peningkatan skala usaha. Impor sapi perah yang dilakukan selama ini dapat dikatakan lebih bersifat kerja-bakti sosial para peternak untuk meningkatkan produksi susu nasional ketimbang peningkatan kesejahteraan mereka.

Produktivitas sapi perah yang masih rendah dengan skala usaha yang kecil pula berakibat pada biaya produksi yang relatif tinggi, sehingga harga susu harus tinggi pula pada tingkat peternak dan hal ini sudah barang tentu tidak akan dapat bersaing dengan harga susu impor. Walaupun pasar untuk susu masih terbuka luas, namun belum tentu akan dapat dimanfaatkan oleh produsen susu dalam negeri, karena dalam merebut pasar tersebut produsen susu dalam negeri harus bersaing dengan susu impor.

Infrastruktur yang kurang baik, transportasi misalnya dapat menjadi faktor penghambat proses produksi dan distribusi produk peternakan, dalam hal ini adalah susu khususnya dari segi efisiensi biaya (Kemtan 2010). Transaction cost yang mahal menjadi rentetan masalah dari adanya pembangunan infrastruktur yang kurang baik. Belum tersedianya infrastruktur untuk lahan peternakan padang penggembalaan, jalan untuk akses tataniaga, belum tersedia transportasi (kapal laut dan KA) dari daerah produsen ke konsumen. Belum tersedianya pabrik pengolah bahan pakan berbasis limbah pertanian (Sumarno 2011).

Gambar 6. Pencarian Rumput Pakan Ternak (Sumber : https://v-images2.antarafoto.com/pencari-rumput-ld1n41-pso.jpg)

Oleh karena itu, perbaikan infrastruktur jalan dan digunakannya kendaraan bermotor memberi manfaat terutama pada produksi hasil-hasil peternakan yang semula daerah pemasarannya sempit atau terbatas yang disebabkan ketidakmampuan sistem transportasi memindahkannya ke pasar yang lebih luas. Perbaikan fasilitas, infrastruktur, serta aksesibilitas ke pasar dan biaya transportasi melalui penetapan harga kompetitif, maka pendapatan riil penduduk di perdesaan akan meningkat (Mashoed 2004). Sebaliknya, jika tidak tersedia fasilitas memadai, maka perusahaan angkutan dapat mempertahankan tarif angkutan pada tingkat yang tinggi sehingga peternak sapi perah tidak dapat menjual hasil-hasil peternakan mereka dalam pasar yang kompetetif.

Gambar 7. Teknologi Hijauan Pakan Ternak (Sumber : https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=2ahUKEwjm_dD5u5XdAhVEPo8KHWvjAZsQjRx6BAgBEAU&url=http%3A%2F%2Fgodialy.com%2Fvideo%2FDhYpIbkRO2U&psig=AOvVaw2VNhDMDxaXGjnWa2wSIrDz&ust=1535742253985386)

Beberapa hal yang dapat menghambat peningkatan produksi susu adalah penyakit yang dapat secara langsung maupun tidak langsung menurunkan produktivitas sapi perah, beberapa penyakit tersebut diantaranya adalah mastitis, brucellosis, paratuberkulosis, dan lainnya. Penyakit radang ambing yang dikenal sebagai mastitis, merupakan masalah utama dalam tata laksana usaha peternakan sapi perah yang sangat merugikan, baik peternak sapi perah, industri pengolah susu, dan konsumen (Fehlings dan Deneke 2000). Mastitis merupakan peradangan yang bersifat kompleks dengan variasi penyebab, derajat keparahan, lama penyakit dan akibat penyakit yang beragam. Mastitis subklinik adalah mastitis yang tidak menampakkan perubahan fisik pada ambing dan susu yang dihasilkan, tetapi menyebabkan penurunan produksi susu, ditemukannya mikroorganisme patogen, dan terjadi perubahan komposisi susu.

Kasus mastitis terutama mastitis subklinik di Indonesia sampai akhir tahun 2006, tercatat sekitar 75%–83% (Sudarwanto et al. 2006). Kerugian ekonomis yang diakibatkan mastitis antara lain: a). Penurunan produksi susu per kwartir per hari antara 9%–45,5% (Sudarwanto 1999). b). Penurunan kualitas susu yang mengakibatkan penolakan susu mencapai 30%-40% dan penurunan kualitas hasil olahan susu (Hamman & Fehlings 2002; Hamann 2004). c). Peningkatan biaya perawatan dan pengobatan serta pengafkiran ternak lebih awal (Seegers et al. 2003; Shim et al. 2004).

Mastitis dapat dihambat dengan melakukan sterilisasi peralatan pemerahan sebelum pemerahan diumulai, menggunakan desinfektan dan air hangat untuk membersihkan ambing dan putting pada saat sebelum pemerahan, menggunakan lap ambing yang berbeda untuk beberapa ekor sapi, memerah masih menggunakan pelicin (vaseline) yang bersih dan disimpan sebagaimana mestinya, memerah sampai tuntas, melakukan desinfeksi putting secepatnya setelah pemerahan (melakukan teat dipping) menggunakan desinfektan yang efektif seperti larutan yodium 0.5 – 1% (Sudarwanto et al. 2006).

Gambar 8. Sapi Betina yang menalami Mastitis (Sumber : http://www.ilmuhewan.com/wp-content/uploads/2016/12/penyakit-manintis-paada-sapi)

Brucellosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri genus Brucella dan dikategorikan oleh Office International  Des Epizooties (OIE) sebagai penyakit zoonosis (Alton et al.1988). Brucellosis pada hewan betina yang terinfeksi biasanya asimptomatik, sedangkan pada hewan bunting dapat menyebabkan plasentitis yang berakibat terjadinya abortus pada kebuntingan bulan ke-5 sampai ke-9. Jika tidak terjadi abortus, bakteri brucella dapat dieksresikan ke plasenta, cairan fetus, dan leleran vagina. Kelenjar susu dan kelenjar getah bening juga dapat terinfeksi dan mikroorganisme ini diekskresikan ke susu (OIE, 2004). Infeksi pada hewan terjadi secara persisten seumur hidup, dimana bakteri Brucella dapat ditemukan di dalam darah, urin, susu, dan semen (Brucellosis Fact Sheet 2003).

Paratuberkulosis atau Johne’s Disease adalah penyakit enteritis granulomatik kronik pada ternak ruminansia terutama sapi, kambing, dan domba yang disebabkan oleh Mycobacterium paratuberkulosis (OIE, 2000). Penyakit ini dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar karena terjadi penurunan produksi, penurunan berat badan, meningkatnya hewan yang diafkir, dan menyebabkan kematian (Philip 2000).

Peran pengawasan oleh dokter hewan dan peternak sangat dibutuhkan untuk menjamin kesehatan sapi perah. Kendala yang dihadapi saat ini adalah masih banyaknya peternak yang belum menerapkan good dairy farming practices sebagaimana standar yang telah ditetapkan. Setiap peternak harus berbekal pengetahuan tentang konsep Good Dairy Farming Practices yaitu tatalaksana peternakan sapi perah yang meliputi segala aktivitas teknis dan ekonomis dalam hal pemeliharaan sehari-hari seperti reproduksi, cara dan sistem pemberian pakan, sanitasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit.

Standardisasi impact point yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan yang terdiri dari tiga aspek tatalaksana, yaitu: Tatalaksana reproduksi, tatalaksana pakan, dan tatalaksana pemeliharaan sehari-hari. Aspek-aspek tersebut jika dilaksanakan dengan baik tentu akan meningkatkan keuntungan peternak. Sebaliknya, apabila aspek tersebut diabaikan dan kurang mendapat perhatian walaupun sapi yang diternakkan bersifat unggul, tetap saja akan menurunkan keuntungan akibat produksi yang tidak maksimal. Penerapan Good Dairy Farming Practices dapat menekan bahaya yang meliputi penyakit ternak, penyakit yang ditularkan melalui pangan atau yang disebut food borne disease, dan kontaminan bahan toksik lainnya (DITJENNAK 1996b).

Kesimpulan yang dapat diambil ialah kemampuan produksi susu oleh produsen susu segar untuk memenuhi kebutuhan susu dalam negeri masih rendah. Permasalahan utama dari pasar susu nasional adalah rendahnya populasi sapi perah yang diikuti dengan rendahnya kualitas susu yang dihasilkan (11 liter/hari), skala usaha peternak rendah (sistem smallholder 2-3 ekor/peternak), biaya impor sapi perah serta bibit yang mahal, belum terlaksananya good farming practices yang baik, modal yang minim, dan belum optimalnya bimbingan yang diberikan oleh pemerintah seperti yang tertuang dalam UU No.18 Tahun 2009 pasal 35 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang mengamanatkan pemerintah unyuk memberikan bimbingan pada unit pasca panen produk hewan berskala kecil dan menengah (Farid dan Suksesi, 2011).

Oleh karena itu, agar tujuan dan kebutuhan susu dimasa depan dapat  terpenuhi harus dilakukan pengembangan dari berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut ialah jumlah sapi perah, kesehatan sapi, jumlah produksi susu, kompetensi peternak, dan sistem peternakan yang baik. Aspek-aspek tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat yang berdampak pada berhasil atau tidaknya program dan kebijakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan susu nasional dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA:

Agustina, Titin. 2016.  Outlook Komoditas Pertanian Subsektor Peternakan Susu. Jakarta:  Pusat  Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementrian Pertanian.

ALTON, G.G ., J .M. JONES, R .D. ANGUS and J.M. VERGER. 1988 . Techniques for the brucellosis laboratory Institute National de la Recherche Agronomique . Paris . pp. 34 – 60 .

BRUCELLOSIS FACT. SHEET . 2003 . Brucellosis . Centre for Food Security and Public Health . pp . I – 7.

Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara. 2005. Laporan Tahunan. Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, Manado.

DISNAK JABAR. 2002. Kebijakan Pengembangan Swasembada Daging dan Susu di Jawa Barat. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat, Bandung.

DITJENNAK. 1996. Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Agribisnis Persusuan Menghadapi Era Pasar Bebas. Direktorat Jenderal Peternakan, Jakarta.

Fehlings, K. & J. Deneke. 2000. Mastitis problematik in Betrieben mit Oekologischer Rinderhaltung. Tieraerztl Praxia (G) 28: 104-109.

Hamann, J. & K. Fehlings. 2002. Leitlinien zur Bekaempfung der Mastitis des Rindes als Bestandsproben. 4. Aufl age, DVG-Verlag, Giessen.

Hamman, J. 2004. Nur gesunde Kuehe produzieren „gesunde“ Milch. DMZ 25: 36-39.

https://bisnis.tempo.co/read/823246/produksi-susu-di-indonesia-masih-rendah-ini-penyebabnya (diakses 11 Juli 2018).

http://infopublik.id/assets/upload/headline//20161116024830.jpg (diakses 31 Agustus 2018).

http://www.trobos.com/thumbnail/b_8061.jpeg (diakses 31 Agustus 2018).

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=2ahUKEwjm_dD5u5XdAhVEPo8KHWvjAZsQjRx6BAgBEAU&url=http%3A%2F%2Fgodialy.com%2Fvideo%2FDhYpIbkRO2U&psig=AOvVaw2VNhDMDxaXGjnWa2wSIrDz&ust=1535742253985386(diakses 31 Agustus 2018).

https://v-images2.antarafoto.com/pencari-rumput-ld1n41-pso.jpg (diakses 31 Agustus 2018).

http://www.ilmuhewan.com/wp-content/uploads/2016/12/penyakit-manintis-paada-sapi.png (diakses 31 Agustus 2018).

Kementerian Pertanian. 2010a. Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014.

[LPPM IPB] Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor. 2015. Buku panduan sekolah peternakan rakyat (SPR 1111). Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Mashoed. 2004. Pemberdayaan Masyarakat Miskin: Membuka Kawasan Isolasi. Surabaya: Papyrus.

OIE. 2000. Paratuberculosis. In: Manual of Standards Diagnostic Test and Vaccines. office International des Epizooties, 292–303.

OIE. 2004 . Manual standards for diagnostic test and vaccines for terrestrial animals : Bovine Brucellosis . http :// www.oie.int/eng/normes/mmanual/a summry.htm.

PHILIP H. JONES. 2000. Update on Bovine

Paratuberculosis (Johne’s Disease), University of Liverpool, Department of Veterinary Clinical Science and Animal Husbandry, Faculty of Veterinary Sciene, Leahurst, Neston, South Wirral. pp. 1–20.

Pasaribu, A., Firmasnyah, N. Idris. 2015. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu sapi perah di Kabupaten Karo Provinsi Sumatra Utara. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 18(1): 28-35.

Seegers, H., C. Fourichon & F. Beaudeau. 2003. Production effects related to mastitis and mastitis economics in dairy cattle herds. Vet. Res. 34: 475-491.

Shim, E. H., R. D. Shanks & D. E. Morin. 2004. Milk loss and treatment costs associated with two treatment protocols for clinical mastitis in dairy cows. J. Dairy Science 87: 2702-2708.

Siregar. S.B. T. Manurung dan L. Praharani, 1994. Penambahan pemberian konsentrat pada sapi perah laktasi dalam upaya peningkatan keuntungan peternak di daerah Garut, Jawa Barat. J. Penelitian Peternakan Indonesia, 2: 31–35.

Siregar, S.B. 2000. Aspek ekonomis suplementasi pakan konsentrat pada sapi perah laktasi. Media Peternakan Ilmu Pengetahuan Teknologi Peternakan, 1: 25–30.

Siregar, S.B. 2001. Peningkatan kemampuan berproduksi susu sapi perah laktasi melalui perbaikan pakan dan frekuensi pemberiannya. JITV. 2 (06): 76–82.

Sudarwanto, M. 1999. Usaha peningkatan produksi susu melalui program pengendalian mastitis subklinik. Orasi Ilmiah, 22 Mei 1999.

Sudarwanto, M., H. Latif & M. Noordin. 2006. The relationship of the somatic cell counting to sub-clinical mastitis and to improve milk Quality. 1st International AAVS Scientific Conference. Jakarta, July 12-13, 2006.

Sugiarti, T dan S.B. Siregar, 1999. Dampak pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) terhadap peningkatan pendapatan peternak sapi perah di daerah Jawa Barat., JITV. 4(1): 1–6.

Sumarno. (2011). Ketersediaan Sumberdaya Lahan Pertanian dan Ketahanan Pangan Nasional. Makalah Seminar di Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor, 29 November 2011.

3 thoughts on “Kajian Edisi World Milk Day 2018 – Isu Ketersediaan Susu Sapi Nasional

  1. Wahyu Agung Nurdewantoro Reply

    Sedikit saran untuk referensi yg digunakan lebih aktual dan bakal lebih bagus kalo ada narasumber yg bisa komentar tentang data yg dipake di kajian ini. Jaya terus IMAKAHI, Viva Veteriner!

  2. Gagang I Akbar Reply

    Apa yg teman teman mahasiswa FKH khususnya dan masyarakat pembaca yg bisa di lakukan setelah mengetahui hal hal tersebut?
    Mungkin itu bisa di tambahkan biar konkrit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *