Fakta Suntik Hormon pada Ayam

Masih banyak masyarakat awam yang berargumen bahwasanya ayam yang selama ini mereka konsumsi itu disuntik hormon. Hormon tersebut disuntikkan untuk mempercepat pertumbuhan hewan sehingga dikenal dengan hormon pertumbuhan (growth hormone). Menurut dekan FKM UI konsumsi ayam yang disuntik hormon dapat mempengaruhi hormon anak laki-laki yang masih dalam masa pertumbuhan.
Berikut efek samping dari memakan daging ayam suntik hormon
1. Mempercepat pubertas pada anak perempuan
2. Meningkatkan resiko terkena kanker payudara
3. Meningkatkan resiko kanker prostat pada lelaki
Tentu saja ini menjadi boomerang bagi penjual ayam/peternak ayam. Bahkan juga untuk profesi kita kelak.
Bagi mahasiswa yang mengerti tentang perkembangan industry poultry tentunya mengerti maksud suntik hormon pada ayam yang selama ini beredar. Oleh karena itu Kastrat PB IMAKAHI membuat kajian tentang ini yang bertujuan untuk membenarkan rumor yang masih beredar di kalangan masyarakat. Kajian dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2017. Kesimpulan dari hasil kajian yang di dapat yaitu “suntik hormon sudah tidak digunakan lagi dipeternak. Namun asumsi tentang daging ayam seperti ayam gemuk karena suntik, suntik hormon,suntik antibiotik, dll masih melekat dimasyarakat”.
Maka dari itu kita mewawancarai salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Hewan IPB drh. Aulia Andi Mustika, M.Si. Menurut beliau Peternak Ayam Broiler di Indonesia tidak menggunakan Hormon Pertumbuhan (Growth Hormone) karena sebagaimana yang kita ketahui hormon esterogen termasuk hormon steroid yang di mana hormon tersebut mahal harganya. Jadi hormon tidak mungkin digunakan karena bisa mengurangi keuntungan dari sisi ekonomi. Namun fakta sesungguhnya Peternak Ayam Broiler di Indonesia menggunakan vaksin dan antibiotik yang penggunaannya diawasi dan diatur oleh Otoritas Veteriner (Dokter Hewan). Pengunaan vaksin dan antibiotik ini tujuannya untuk mengurangi kemungkinan serangan penyakit tertentu. Dalam hal ini, peternak  dapat menekan biaya  karena melakukan vaksinasi/pencegahan penyakit lebih murah dan mudah dari pada mengobati penyakit. Penggunaan antibiotik sendiri biasanya dicampur pada pakan ternak dan lama pemakaiannya paling lama 7 hari. Tujuan penggunaan antibiotik dengan dosis yang tepat dapat memperbaiki efisiensi penggunaan pakan pada broiler dan menekan bakteri patogen di dalam saluran pencernaan serta diharapkan tidak menimbulkan residu dan resistensi pada broiler dan juga
Penggunaan vaksin dan antibiotik sendiri diatur oleh PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14/PERMENTAN/PK.350/5/2017 TENTANG KLASIFIKASI OBAT HEWAN khususnya Pasal 16 dan 17 yang mengatur tentang penggunaan antibiotik :
Pasal 16 (1) Obat Hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) huruf a, berupa antibiotik imbuhan pakan (feed additive) terdiri atas: a. produk jadi sebagai Imbuhan Pakan (Feed Additive); atau b. bahan baku Obat Hewan yang dicampurkan ke dalam pakan. (2) Obat Hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang penggunaannya sebagai antibiotik imbuhan pakan (feed additive).
Pasal 17 (1) Dalam hal untuk keperluan terapi, Antibiotik dapat dicampur dalam pakan dengan dosis terapi dan lama pemakaian paling lama 7 (tujuh) hari. (2) Pencampuran Obat Hewan dalam pakan untuk keperluan terapi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada narasumber seperti :
Mengkonsumsi produk ayam ‘suntik antibiotik’ bahaya (Mitos/fakta)
Mengkonsumsi ayam bagian dada/sayap bahaya karena berkaitan dengan lokasi ‘penyuntikan’ (Mitos/fakta)
Drh. Aulia Andi Mustika, M.Si mengatakan produk Ayam yang diberikan antibiotik dengan dosis yang penggunaannya diatur oleh Otoritas Veteriner layak dikonsumsi karena itu merupakan ayam yang sehat dan tidak menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada manusia. Produk ayam bagian dada/sayap juga aman untuk dikonsumsi karena tidak ada hubungannya dengan masalah hormon/ antibiotik. Melainkan yang benar adalah bagian dada/ sayap merupakan tempat dilakukannya pengambilan darah pada ayam. Oleh karena itu Produk ayam bagian dada/sayap juga aman untuk dikonsumsi.
Yang penting jangan sampai menambah stigma di masyarakat untuk takut makan daging ayam karena diberi hormon. Sesungguhnya berita tentang penggunaan hormon pada ayam adalah kebohongan. Sebenarnya untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan kerja sama yang baik juga, salah satunya Peran Instansi Pemerintah(Otoritas Veteriner) yg berwenang dalam hal ini dalam mengawasi penggunan antibiotik dan peran kita sebagai Dokter Hewan dan Mahasiswa Kedokteran Hewan untuk memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat mengenai kebenaran dari daging ayam (RPJ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *