Mengenal Lebih Jauh tentang Lumba-Lumba – Departemen Kajian Strategis

LUARAN KAJIAN IMAKAHI #1 : MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG LUMBA-LUMBA

Lumba-lumba adalah salah satu mamalia air yang tergolong cerdas dan memiliki anatomi serta fisiologi yang unik. Ada beberapa jenis lumba-lumba, diantaranya yakni lumba-lumba hidung botol yang juga terdapat di perairan Indonesia.
1. Taksonomi lumba-lumba
a. Kingdom : Animalia
b. Filum : Chordata
c. Subfilum : Vertebrata
d. Kelas : Mamalia
e. Ordo : Cetacea
f. Subordo : Odonoceti
g. Famili : Delphinidae
h. Genus : Tursiops
i. Spesies : Tursiops aduncus

2. Status konservasi lumba-lumba
a. IUCN : data deficient (kurangnya data yang cukup karena riset yang masih minim)
b. CITES : Appendix II

3. Persebaran lumba-lumba di Indonesia
a. Laut Jawa
b. Selat Sunda
c. Pantai lepas Papua
d. Sebelah timur Laut Seram
e. Pulai Panaitan
f. Pulau Sissie
g. Pulau Solor
h. Pulau Biak
i. Selat Ambon
j. Selat Malaka
k. Kepulauan Riau
l. Selat Sunda
m. Perairan utara Bali

4. Biologi dan behavior lumba-lumba
a. Lumba-lumba memiliki tubuh langsing untuk mempermudah pergerakannya (Coffey 1977).
b. Sebagai hewan menyusui, lumba-lumba berdarah panas yaitu memiliki suhu yang stabil sekitar 37 °C, bernafas dengan paru-paru, yang dilengkapi dengan sebuah lubang pernapasan berkatup di bagian atas kepala (blowhole). Satwa lumba-lumba memiliki satu set gigi yang tidak memiliki gigi seri.
c. Lumba-lumba dapat ditemukan di perairan dengan kedalaman 200 meter namun lebih sering berada di perairan dengan kedalaman kurang dari 100 meter. Lumba-lumba hidung botol menyukai perairan dengan temperature 20-30 ºC (Wang dan Yang 2009).
d. Deskripsi tingkah laku lumba-lumba:
i. Bow riding : Gerakan lumba-lumba berenang mengikuti gerakan kapal
ii. Aerials : Gerakan lumba-lumba melompat sangat tinggi, salto, berbalik dan berputar di udara
iii. Stationary : Lumba-lumba diam, tidak melakukan pergerakan
iv. Travelling : Gerakan lumba-lumba membentuk kelompok dalam kegiatan mencari mangsa dan pergerakan untuk migrasi
v. Lob tailing : Gerakan mengangkat fluks ke luar permukaan air dan memukul-mukulkan ke permukaan air
vi. Feeding : Kegiatan yang dilakukan ketika sedang mencari makan, biasanya ditandai adanya schooling ikan di dekat lumba-lumba
vii. Avoidance : Gerakan lumba-lumba yang menghindar dari kapal
(Siahaineia, 2010)

e. Kebiasaan lumba-lumba yang bergerak berkelompok dan berlompatan di atas permukaan laut merupakan pemandangan yang menakjubkan. Lumba-lumba memiliki sifat yang unik, seperti banyak melakukan tingkah laku dalam pergerakannya di permukaan air sambil mengeluarkan suara yang bertujuan untuk komunikasi antar sesama lumba-lumba.
f. Bottlenose dolphin termasuk hewan yang tidak menyerang sehingga dapat dengan mudah dan aman untuk dinikmati atraksinya. Sangat aktif dipermukaan dan sering mengikuti gelombang yang timbulkan oleh gerakan kapal. Bottlenose dolphin sering dijumpai bersamaan dengan kapal rekreasi dan pada perikanan pantai.
g. Pada umumnya lumba-lumba memiliki indera penglihatan dan indera penciuman yang buruk sehingga kurang mendukung aktifitas sehari-hari di dalam habitat perairan. Namun lumba-lumba memiliki sistem sonar yang berfungsi dalam pengenalan obyek dan lokasi di dalam air (ekolokalisasi) menggunakan pancaran frekuensi suara.
h. Pada bagian depan kepala terdapat organ melon berbentuk bulat yang terbuat dari lemak berminyak dan berfungsi mengarahkan frekuensi yang sangat tinggi ke arah sasaran. Sasaran akan terdeteksi berdasarkan pantulan frekuensi yang diterima di bagian tertentu di rahang bawah untuk diteruskan ke otak
i. Kemampuan penggunaan frekuensi lumba-lumba yaitu pada frekuensi 750-300.000 getaran per detik
j. Lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik merupakan mamalia air. Lumba-lumba betina mencapai usia reproduktif pada umur 7-12 tahun (Mann et al. 2000) sementara lumba-lumba jantan dapat mencapai usia produktif pada umur 13 tahun (Amir et al. 2007).

5. Dasar hukum konservasi lumba-lumba di Indonesia
a. Undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistem
b. Peraturan pemerintah no. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar : menyatakan bahwa seluruh family Dolphiniadae di Indonesia adalah dilindungi
c. Peraturan pemerintah no. 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar
d. Permenhut P.31/2012 tentang lembaga konservasi
e. Perdirjen P.16/IV-SET 2014 tentang pedoman peragaan lumba-lumba

DAFTAR PUSTAKA
Amir O, Berggren P, Jiddawi NS. 2007. Reproductive biology of the male Indo-Pacific Bottlenose Dolphin. London (GB): Book of Abstracts.
Coffey DJ. 1977. The Encyclopedia of Sea Mammals. London (GB): Book of Abstracts.
Mann J, Connor RC, Barre LM, Heithaus MR. 2000. Female reproductive success in bottlenose dolphins (Tursiops sp.): life history, habitat, provisioning, and group-size effects. Behavioral Ecology 11(2): 210-219.
Perrin W, Würsig B, Thewissen J. 2008. Encyclopedia of Marine Mammals. San Diego (CA): Academic Press.
Siahaineia, SR. 2010. Tingkah Laku Lumba-Lumba di Perairan Pantai Lovina Buleleng Bali. Jurnal “Amanisal” PSP FPIK Unpatti-Ambon. Vol. 1. No.1, Mei 2010. Hal 13– 2.
Wang JY, Yang AC. 2009. Indo-Pacific Bottlenose Dolphin (Tursiops aduncus). Di dalam: Perrin WF, Würsig B, Thewissen JGM, editor. Encyclopedia of Marine Mammals. Edisi ke 2. Amsterdam (NL): Academic Press.
Widayanti, R., Fibrianto, Y. H. 2016. Kajian Molekuler Lumba-Lumba Hidung Botol (Tursiops sp.) Asal Laut Jawa Berdasar Urutan Gen Cytochrome C Oxidase Sub-Unit II (COX II). Jurnal Kedokteran Hewan Vol. 10 No. 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *